Powered By Blogger

Rabu, 09 November 2011

Ujian Akhir Matrikulasi - Akuntansi Pengantar

1.      LAPORAN SUMBER DAN PENEMPATAN DANA







UD MANDIRI USAHA

NERACA

31 DESEMBER 2008, 2007






NO URAIAN  2008 2007 SUMBER PENEMPATAN
1 Kas  Rp 8,850.000  Rp.  2,350.000
 Rp.   6,500.000
2 Piutang Dagang (Neto)  Rp.15,000.000  Rp.12,000.000
 Rp.   3,000.000
3 Persediaan  Rp.45,200.000  Rp.35,200.000
 Rp. 10,000.000
4 Persekot Asuransi  Rp.     900.000  Rp.      400.000
 Rp.      500.000
5 Persediaan Perlengkapan   Rp. 100.000  Rp.      100.000
 Rp.            -   
6 Perabot dan Kendaraan   Rp.33,200.000  Rp.33,200.000
 Rp.           -   
7 Cadangan Penyusutan   Rp. 3,000.000  Rp.  2,400.000  Rp.    600.000
8 Aktiva Lain   Rp.20,000.000  Rp. -   
 Rp. 20,000.000
9 Hutang Niaga  Rp. 52,000.000  Rp.42,000.000  Rp.10,000.000
10 Pendapatan Diterima Dimuka  Rp. 700.000  Rp. 900.000
 Rp.      200.000
11 Upah yang Terhutang  Rp. 400.000  Rp. 500.000
 Rp.      100.000
12 Hutang Bunga  Rp. 100.000  Rp. 400.000
 Rp.      300.000
13 Hutang Jangka Panjang  Rp. 23,000.000  Rp.13,000.000  Rp.10,000.000
14 Modal Usaha  Rp. 44,050.000  Rp.24,050.000  Rp.20,000.000




Jumlah Total  Rp.40,600.000  Rp. 40,600.000 















Catatan :

Jumlah tersebut sudah termasuk catatan revisi soal yang dimana salah ketik ( kesalahan klasik)   dan berakibat NERACA "UD MARDI USAHA" 31/12 2008 TIDAK BALANCE
Diantara adalah Account :                                                                                                

         1     Persediaan    untuk Tahun 2008 yang semula 42.500 menjadi 45.200             
                Besar..Kemungkinan salah ketik.
         2     Modal Usaha untuk Tahun 2008 yang semula 44.500 menjadi 44.050. 
                Salah Memindahkan Saldo Modal Akhir 2008 (Lihat Di Laporan Perubahan Modal )


3.      MENURUT SAUDARA BAGAIMANA SEBAIKNYA
         KEBUTUHAN DANA INVESTASI “UD MARDI USAHA”
         DENGAN MEMPERHATIKAN ANALISIS BUTIR 1 DAN 2  :


MENURUT SAYA :
Dengan ememperhatikan Analisis Butir 1 dan 2, maka dapat disimpulkan bahwa “UD MARDI USAHA” memiliki perkembangan yang pesat dan baik, hal ini di tandai dengan hasil-hasil analisis dari butir 1 dan 2 yang baik dan semakin mununjukkan peningkatan kinerja dalam menghasilkan laba yang maksimal.
Perkiraan Laba ( Omzet )  “UD MARDI USAHA” diperkiraan akan mengalami kenaikan yang tinggi yakni berkisar 40 % sampai dengan 60 % dan mampu menghasilkan laba sebesar Rp. 60.000.000,-.
Namun demikian “UD MARDI USAHA” membutuhkan Dana Investasi sebesar Rp. 75.000.000,- dimana dana tersebut akan digunakan untuk :
a.      Menyelesaikan sarana produksi        Rp. 20.000.000,-
b.      Menyelesaikan sarana pemasaran    Rp. 30.000.000,-
c.       Menyelesaikan sarana transportasi Rp. 45.000.000,-
d.      Menyelesaikan sarana pendukung    Rp.10.000.000,-

Menurut pendapat saya dari total dana investasi yang butuhkan diperkirakan dapat diatasi dengan perkiraan pendapatan laba ( omzet ) yakni sebesar Rp. 60.000.000,-  dan sisanya dapat diatasi dengan cara hutang jangka panjang kepada Bank.Sehingga sumber pendanaan untuk tahun 2009 pada POS HUTANG JANGKA PANJANG DAN  POS MODAL USAHA Masing-masing akan mengalami perubahan yang cukup tajam yaitu :
POS HUTANG JANGKA PANJANG : dari Rp. 23.000.000 menjadi Rp 38.000.000,- Artinya perubahan tersebut menjadi sumber pendanaan sebesar Rp. 15.000.000,-. POS MODAL USAHA : dari Rp. 44.050.000 menjadi Rp 104.050.000,- Artinya perubahan tersebut menjadi sumber pendanaan sebesar Rp. 60.000.000,-.







Senin, 07 November 2011

Menyusun Anggaran Demi Meraih Benda Impian

Foto: Ferdi






Butuh komitmen tinggi untuk bisa membeli barang mahal yang diidam-idamkan. Di antaranya dengan menabung.
S iapa pun pasti ingin memiliki rumah atau mobil. Namun, harganya mungkin tak terjangkau. Mau tidak mau keinginan pun harus dipendam. Padahal, tandas Safir Senduk , siapa pun bisa memiliki mobil, rumah idaman dan benda-benda mahal lainnya. Asalkan mereka tahu cara memperolehnya, yakni dengan merencanakannya sungguh-sungguh. Berikut kiat-kiat yang diberikan konsultan masalah keuangan dari Biro Perencana Keuangan Safir Senduk & Rekan.



TENTUKAN PRIORITAS DAN HARGA
Safir mengingatkan agar tiap orang sadar pada kemampuannya sendiri. Selain perlu perencanaan matang, tak semua keinginan/ kebutuhan bisa dipenuhi segera. Untuk barang berharga mahal, Safir menyarankan agar kebutuhan tersebut dikelompokkan berdasarkan prioritas dan harga.
· PRIORITAS
Menentukan prioritas berdasarkan apa yang sangat dibutuhkan saat itu sangatlah penting. Seorang kurir, contohnya, kebutuhan prioritasnya kemungkinan besar adalah kendaraan roda dua. Berbeda dengan pekerja kantoran, mungkin kebutuhannya akan kendaraan menempati urutan kesekian karena yang terpenting adalah tempat tinggal. Bukan tidak mungkin setelah kebutuhan akan rumah dan kendaraan terpenuhi, prioritas itu bergeser ke barang-barang elektronik. Apa pun wujudnya, setiap keluarga haruslah memprioritaskan sesuatu berdasarkan kebutuhan yang lebih penting.
HARGA
Tak jarang kita dibuat bingung mana yang harus dibeli lebih dulu, kendaraan atau rumah. Bila keduanya memang sama penting, kita bisa mengelompokkannya berdasarkan harga, mulai yang termahal, sedang, dan murah. Misalnya, yang terbilang mahal rumah dan kendaraan, yang terbilang sedang, barang-barang elektronik, sedangkan yang murah, peralatan rumah tangga ataupun pakaian, dan kebutuhan sederhana lain.
Penentuan berdasarkan harga ini sangat diperlukan karena biasanya perlakuannya pun akan berbeda. Barang yang berharga murah atau sedang-sedang saja umumnya tidak memerlukan perencanaan matang. Bahkan bisa langsung dibeli begitu dibutuhkan. Sedangkan kebutuhan berharga ratusan juta rupiah pastilah butuh perencanaan matang, disiplin menabung dan waktu lama.
Menurut Safir, orang Indonesia memiliki kebiasaan membeli barang yang harganya disanggupi lebih dulu, baru kemudian yang sedang dan mahal. "Sebenarnya, sih, sah-sah saja. Akan tetapi kalau sudah fokus ke barang-barang yang harganya mahal, kebiasaan membeli barang lain yang kurang dibutuhkan maupun harganya lebih murah haruslah dihilangkan dulu."
PERENCANAAN MATANG
Saat merencanakan pembelian barang-barang mahal, menurut Safir ada beberapa cara yang bisa dilakukan.
1. Menabung rutin per bulan. Misalnya gaji tetap Rp 3 juta per bulan, sisihkan sekitar 10-20 persen, yakni Rp 300.000 - Rp 600.000. Keuntungannya, dana yang terkumpul bisa dihitung, setahun Rp 3.600.000 - Rp 7.200.000. Masalahnya, jarang ada orang memiliki komitmen tinggi untuk menabung rutin dengan jumlah yang sama, apalagi melebihi.
2. Menabung tidak rutin per bulan, tapi hanya kalau dapat bonus saja. Keuntungannya, jumlah yang didapat bisa langsung besar, tapi dana yang terkumpul membutuhkan waktu relatif lama.
3. Menabung rutin per bulan ditambah bonus, hingga target yang akan dicapai bisa lebih cepat terealisasi. Dalam setahun dengan tabungan rutin sebesar Rp 3.600.000 - Rp 7.200.000 ditambah 3x bonus masing-masing Rp 2.000.000, contohnya, dipastikan bisa terkumpul Rp 9.600.000 - Rp 13.200.000. Safir sangat menyarankan pemakaian cara ini, terlebih bila dana dibutuhkan cepat.
MENUNTUT KOMITMEN TINGGI
Masalahnya, seberapa besar pun gaji seseorang, bila tidak pintar-pintar mengatur, bukan mustahil setiap bulan ia pasti akan selalu kehabisan, hingga tak ada dana tersisa untuk menabung. Untuk itu, Safir menyodorkan dua syarat:
· Motivasi dan komitmen
Ada orang yang karena sangat ingin memiliki motor rela mengurangi pengeluarannya per bulan. Dia berhitung cermat berapa uang yang harus dikumpulkannya per hari agar motor tersebut bisa didapatnya dalam jangka waktu setahun. Dari contoh kasus ini, keberhasilan seseorang mendapatkan benda yang diidamkannya sangat ditentukan oleh seberapa kuat motivasinya. Begitu juga halnya jika seseorang ingin membeli rumah, mobil, atau benda berharga lainnya.
Namun perlu diingat, kuatnya motivasi belum tentu bisa berjalan maksimal bila tidak dibarengi dengan komitmen tinggi. "Bila per hari dia memutuskan harus mengumpulkan uang Rp 10.000, maka di hari-hari berikutnya dia tetap diminta untuk berkomitmen mengumpulkan uang minimal dengan jumlah sama."
· Pilih sistem yang tepat
Menurut Safir, bagus-tidaknya sistem menabung yang jadi pilihan juga turut mendukung keberhasilan seseorang mendapatkan benda yang diidamkannya tadi. Contohnya, tidak semua individu merasa cocok untuk menabung setiap bulan dengan datang ke bank.
Nah, mereka harus memilih sistem menabung lain, semisal dengan meminta perusahaan memotong gajinya setiap bulan untuk kemudian ditransfer langsung ke rekening depositonya. Bisa juga dengan cara menyimpan uang dalam bentuk emas, reksadana maupun bentuk investasi lain. "Intinya," lanjut Safir, "semakin bagus dan cocok sistem tabungan yang dipilih biasanya kian besar pula tingkat keberhasilannya."
JANGAN MEMAKSA DIRI
Masalah yang sering terjadi adalah minimnya uang simpanan, sementara gaji pun pas-pasan. "Sebaiknya, jangan memaksakan target bila jelas-jelas tidak mungkin bisa mencapainya," anjur Safir. Hitung kembali pemasukan, pengeluaran per bulan, dan kemampuan menabung. Katakanlah DP (down payment)  sebuah rumah Rp 30 juta, dan kita bertekad mendapatkan uang tersebut dalam jangka setahun. Itu berarti kita harus menabung sebesar Rp 2,5 juta per bulan. Padahal kalau gaji per bulan Rp 3 juta, berarti uang yang tersisa hanya Rp 500 ribu untuk biaya hidup. "Bila dipaksakan jelas akan merusak stabilitas keuangan keluarga."
Yang harus dilakukan adalah menurunkan target harga rumah yang akan dibeli. Bila sebelumnya ingin membeli rumah tipe 70, contohnya, turunkan menjadi tipe 60 atau 45.
Jika target tak hendak diubah, mau tidak mau kita harus menutup kekurangan tersebut dengan cara mencari uang tambahan. Strategi lain, dengan memperpanjang target pembelian. Bila sebelumnya 3 tahun, mundurkan jadi 6 tahun. Langkah berikut, mengurangi pengeluaran dan menambah jumlah tabungan per bulan. Namun cara terakhir ini umumnya sulit dilakukan, apalagi bila tak ada kebutuhan yang memang bisa dikurangi. Sebaiknya, saran, Safir, "Target haruslah realistis berdasarkan kondisi keuangan yang ada." Yang harus diingat, harga barang cenderung naik terus. Tak heran bila kita pun harus selalu bersiap dengan kemungkinan melambungnya harga rumah atau mobil yang kita targetkan.
BILA KREDIT JADI PILIHAN
Bagi mereka yang tidak cocok dengan cara menabung, ada cara lain, yakni kredit. Namun, harga barang jadi jauh lebih mahal. Misalnya, harga cash hanya Rp 50 jutaan, maka dengan kredit bisa membengkak jadi Rp 70 jutaan. "Itu karena bunga kredit haruslah diperhitungkan."
Bila kredit tetap jadi pilihan, saran Safir, angka kredit sebaiknya jangan melebihi 30 persen dari pemasukan tetap per bulan. Bila pemasukan berkisar di angka Rp 3 juta, contohnya, maka jangan mengambil kredit melebihi Rp 900.000 per bulan.
Lebih dari 30 persen, kondisi keuangan secara keseluruhan pastilah akan terpengaruh. Bukankah kita tetap harus mempertimbangkan pengeluaran harian seperti transportasi dan makan, maupun pengeluaran bulanan seperti telepon, listrik, koran dan lainnya.
Hal lain yang perlu dipikirkan dalam pengambilan kredit adalah uang muka. Bila harga rumah yang ingin dibeli Rp 200 juta, contohnya, maka DP yang mesti dibayarkan sebesar Rp 60 juta. Bila tidak memiliki simpanan, berarti harus terkumpul dulu sejumlah uang tersebut. "Mau tidak mau, menabunglah untuk yang Rp 60 juta dulu. Begitu uangnya terkumpul, baru ambil kredit," saran Safir.
JANGAN UTAK-ATIK GAJI
S uatu saat, setiap orang/keluarga pastilah akan menjumpai pengeluaran yang sama sekali tidak terduga. Saran Safir , tutuplah kebutuhan tak terduga itu dengan dana dari simpanan, bukan dari gaji tetap. Gaji tetap sebaiknya dikhususkan untuk pengeluaran rutin saja.
Untuk mengetahui apakah biaya tertentu termasuk pengeluaran rutin atau bukan, bisa digolongkan lewat kebutuhan per hari atau per bulan. Contohnya adalah dana untuk makan, transportasi, rekening koran, tagihan listrik dan telepon termasuk pengeluaran rutin karena dibutuhkan setiap hari/bulan. Sedangkan beli baju, handphone , tas dan sepatu bukanlah pengeluaran rutin.
Dengan begitu, kalau uang simpanan memang tidak ada, tunda dulu pembelian yang tidak termasuk biaya rutin karena akan mengganggu stabilitas keuangan. Kalaupun tidak bisa ditunda, karena menyangkut urusan kesehatan misalnya, gunakan dana lain dengan tetap tidak mengutak-atik gaji.
MANFAATKAN JASA KONSULTAN
M enurut Safir , bukan hal mudah mengelola keuangan sendiri. Terlebih bila target yang harus dicapai begitu tinggi. Tapi ia meyakinkan setiap orang bisa melakukannya. Untuk mewujudkan keinginan/kebutuhan yang sudah lama diidam-idamkan tak ada salahnya mendatangi bank atau konsultan keuangan yang sudah dipercaya. Tanyakan dan ajukan program kepemilikan rumah atau kendaraan. Lembaga tersebut umumnya juga memiliki program pembelian barang-barang mahal. "Bila dalam setahun harus terkumpul Rp 60 juta, mereka akan membantu mencarikan jalan keluarnya. Salah satunya lewat kredit," tandasnya. 

Kejujuran Bahasa Tubuh Pasangan


Ilustrasi
Action speaks louder than words. Bahasa tubuh sering kali lebih jujur ketimbang kata-kata.
Pada dasarnya manusia memang lebih sering mengungkapkan perasaan lewat bahasa tubuh. Menurut penelitian Profesor Birdwhistell, seorang ahli nonverbal perbandingannya adalah 65:35. Artinya kita perlu memahami bahasa tubuh pasangan untuk mengetahui isi hatinya yang paling dalam.
Nah, berikut ini beberapa bahasa tubuh yang penting Anda ketahui maknanya.




Berciuman
* Pertanda baik, bila.
Ciuman yang halus, hangat disertai tatapan mata nan lembut. Meski ciuman berlangsung singkat menandakan dia merasa kangen, senang, bahagia, sayang, ingin dimanja atau diperhatikan. Singkat kata, bahasa tubuh ini positif. Apalagi, kalau kemudian ditambah dengan dekapan atau pelukan serta saling merapatkan bagian dada. Selain mengungkapkan rasa sayang dan kerinduan juga melambangkan jalinan kedekatan. Boleh dibilang, pasangan Anda secara penuh menerima kehadiran Anda.
* Pertanda buruk, bila
Ciuman kaku, tegang, dingin, bahkan terburu-buru. Bisa menandakan adanya keterpaksaan. Pasangan Anda tidak sungguh-sungguh melakukannya. Jadi hanya sebatas "ritual" bukan karena ia membutuhkan. Apalagi kalau tidak ada kontak tubuh seperti pelukan atau dekapan. Ini berarti dia berusaha menjaga jarak atau menghindari kedekatan. Mungkin ada masalah yang tidak Anda sadari sehingga dia menghindari kontak fisik yang intens.
* Sebaiknya Anda.
Tanyakan dengan lembut apa yang menggelayuti pikirannya. Apakah ada masalah (yang berkaitan dengan dirinya, anak, kantor atau Anda). Bisa jadi perkaranya sederhana. Misalnya, pasangan masih ingin berduaan, sementara Anda sudah buru-buru mau ke kantor. Bila memang itu masalahnya, berilah ciuman dan pelukan hangat. Tatapan mata lembut juga dapat menunjukkan bahwa Anda sebenarnya sangat perhatian pada pasangan, menyayangi dan mencintai sepenuh hati.
Lain masalah kalau sikapnya itu disebabkan Anda dianggap berbuat kesalahan. Setelah tahu apa kesalahan Anda, segeralah minta maaf atas kekhilafan itu. Moga-moga saja suasananya bisa segera mencair. Alhasil, Anda dan pasangan pun kembali mesra dan harmonis.
Bercinta
* Pertanda baik, bila...
Libido atau gairah seksual yang tengah membara biasanya akan ditunjukkan dengan bahasa tubuh yang erotis. Entah itu melalui gerakan bibir, mata, tangan, atau dengan kostum seksi yang dikenakannya. Bila pria, bisa saja ia bercukur rapi dan menyemprotkan parfum favoritnya. Sinyal-sinyal tersebut dapat diartikan bahwa pasangan sedang berusaha mencuri perhatian untuk mengajak berhubungan intim.
Saat "ritual" berlangsung, bahasa tubuh dalam bercinta tidak hanya berupa kontak tubuh semata. Akan tetapi, juga terjadi kontak mata. Tatapan mata merupakan ungkapan ekspresi yang mendalam dan kebahagiaan serta kepuasan. Dengan begitu, kenikmatan bercinta tidak sekadar bersifat fisik yaitu menyatunya dua tubuh, tapi juga dengan perasaan sepenuh hati.
* Pertanda buruk, bila.
Ketika hendak memulai hubungan intim pasangan tampak gugup. Tubuhnya tidak relaks, terutama di sekitar leher atau bahu. Bahkan, di saat yang sama, kedua matanya tertutup/terpejam. Kalaupun menatap, terasa kaku. Apalagi kalau sampai membuang pandangan. Hubungan intim pun terasa hambar.
* Sebaiknya Anda.
Tidak memaksakan untuk melangsungkan hubungan intim karena kemungkinan besar tidak akan happy ending. Anda bisa menanyakan apa yang menjadi kendalanya. Boleh jadi dia tidak mood,  kecapekan atau ada masalah lainnya. Lebih baik mengetahui dan mengerti kebutuhan pasangan daripada memaksakan kehendak diri sendiri demi kesenangan pribadi.
Bertengkar
* Pertanda baik, bila.
Walaupun adu argumentasi, Anda dan pasangan tetap melakukan kontak mata dan saling berhadapan. Kelopak mata tak membesar dan nada suara pun tidak meninggi. Posisi badan terbuka seperti biasa, tanpa menyilangkan tangan serta tanpa disertai acungan telunjuk dan sebagainya.
* Pertanda buruk, bila.
Saat bertengkar, pandangan pasangan tertuju ke bawah (tanda tak mau peduli dengan penjelasan Anda) atau mengernyitkan hidung (berarti muak dengan apa yang dikatakan). Dia tak berusaha melakukan kontak mata malah membalikkan tubuh dan pergi begitu saja tanpa mau mendengar. Ini artinya, dia tak mau ambil pusing dengan apa yang Anda katakan dan tak mau lagi terlibat secara emosional serta tak berminat untuk memperdebatkan lebih jauh masalah yang sedang diributkan.
* Sebaiknya Anda.
Cooling down.  Tenangkan diri, tarik napas dalam-dalam agar tidak emosi. Beri waktu pada pasangan dan Anda sendiri untuk saling berpikir dan introspeksi diri. Bila Anda dan pasangan mau kembali membahas persoalan yang belum tuntas itu, berusahalah untuk mau mendengarkan penjelasannya.
Beri perhatian dengan sentuhan pada tangan. Baik bila Anda menggandeng pergelangan tangannya. Yang jelas, lakukan kontak mata. Kondisi tubuh lebih "bersahabat", misalnya menyejajarkan tubuh Anda dengan tubuh pasangan. Tak perlu gelisah, tapi relaks dan gerakan lembut seperti sentuhan di tangannya menunjukkan bahwa Anda pun sebenarnya tak mau pertengkaran ini terjadi dan berharap bisa segera diselesaikan. Bila kondisinya makin mencair, Anda boleh saja menyandarkan kepala pada pasangan. Ini untuk mendekatkan lagi hubungan yang sempat renggang.
Jalan berdua
* Pertanda baik, bila.
Anda dan pasangan berjalan sejajar atau beriringan bahkan gerakan langkah kakinya pun "senada seirama". Tak cuma itu, tangan yang saling bergandengan menunjukkan Anda dan pasangan memang mesra dan harmonis.
* Pertanda buruk, bila.
Pasangan yang berjalan beberapa langkah di depan Anda menunjukkan hilangnya komunikasi serta tidak harmonis. Saat hendak menyeberang jalan tidak saling bergandengan tangan juga bisa diartikan tidak saling peduli. Mungkin bila dalam kata-kata "Jalan kita sudah berbeda. Kamu jalan sesuai dengan jalan yang kamu ambil. Aku pergi mengikuti jalan yang kuambil."
* Sebaiknya Anda.
Segera ajak pasangan bicara, mungkin saja dia memendam kekesalan atau kemarahan. Jangan tunda agar hubungan Anda tidak makin jauh. Alangkah baik bila Anda kembali "bergandengan tangan" dan dapat "menyamakan langkah kaki".
Bukankah itu sebenarnya yang Anda dan pasangan inginkan?
Makan di restoran
* Pertanda baik, bila.
Saat duduk di meja, pasangan tersenyum dan terjalin kontak mata yang intensif. Kemudian, posisi duduk berdampingan atau duduk di bagian pojok untuk menjaga kedekatan dan privasi.
* Pertanda buruk, bila.
Anda dan pasangan duduk di ujung meja yang saling berjauhan. Tidak ada kontak mata atau tak merespons tatapan Anda. Malah pandangan pasangan tertuju ke segala arah atau pasangan lain. Dia menyibukkan diri dengan membaca buku/majalah atau sekadar nonton teve dan tak tampak antusias. Selanjutnya, masing-masing terfokus pada makanan tanpa ada komunikasi apa pun.
* Sebaiknya Anda.
Yang jelas, Anda perlu membangkitkan suasana mesra kembali. Pindah posisi duduk sehingga pandangan pasangan mengarah pada Anda. Pastikan tubuh Anda condong ke tubuhnya. Lemparkan senyuman dan perhatikan atau tatap dia dengan lembut. Kalau perlu beri sentuhan pada wajah atau sepanjang punggungnya. Ajak dia bicara dan mengutarakan permasalahan yang dihadapinya. Lalu, bersama-sama mencari solusi sehingga kemesraan dan keharmonisan bangkit kembali.

6 Pilar Penyangga Perkawinan


Ilustrasi
D i masa pacaran, boleh jadi cinta memang sejuta rasanya. Namun ketika memasuki perkawinan, modal cinta saja tak cukup untuk mempertahankan kelangsungan sebuah keluarga.
Dalam mencari pasangan hidup, budaya Jawa mengenal sejumlah kriteria yang dikenal dengan istilah bobot, bibit, bebet. Namun pada kenyataannya, banyak orang beranggapan salah satunya saja sudah cukup memenuhi kriteria pasangan hidup.
 "Cari pasangan ya lihat pribadinya dong! Punya mobil pribadi, rumah pribadi, dan kalau perlu vila pribadi!" ujar seorang perempuan tanpa maksud bergurau. "Kalau menurut saya sih, yang penting harus punya tanggung jawab," sela seorang teman bicaranya. "Yang paling penting ya cinta dong!" yang lain menyergah tak kalah semangat.
Sebetulnya apa saja sih pilar penyangga yang kokoh bagi kelanggengan sebuah perkawinan? Benarkah cinta bisa diandalkan? Sepenuhnya ditentukan oleh kelimpahan materi? Bagaimana soal komitmen dan tanggung jawab? Seberapa penting aspek kepribadian kedua belah pihak? Bagaimana dengan hal-hal lain, bisakah diabaikan?
"Proses menimbang-nimbang memang seharusnya sudah dimulai sebelum suami-istri memasuki gerbang pernikahan," kata Titi P. Natalia, M.Psi . Meski ia tak menyangkal banyak pasangan yang tidak "sempat" melewati proses seleksi. Meminjam istilah anak zaman sekarang, ada tahapan yang mesti dilalui, yakni koleksi, seleksi, baru resepsi. Akan tetapi Titi mengingatkan agar kita tidak perlu lagi menoleh ke belakang hanya untuk mempertanyakan apakah tahapan-tahapan tersebut sudah dilalui atau belum. "Sebaiknya lihat saja ke depan. Komitmen dan kesungguhan suami istrilah yang paling dibutuhkan begitu janur kuning sudah dipasang melengkung," tandasnya.
6 PILAR YANG DIBUTUHKAN
Pilar-pilar yang dibutuhkan demi kokohnya sebuah pernikahan memang tidak sedikit. Berikut di antaranya:
1. Latar belakang keluarga
Tak bisa dipungkiri, latar belakang keluarga kedua belah pihak pastilah memegang peran penting. Yang termasuk di sini antara lain suku, bangsa, ras, agama, sosial, kondisi ekonomi, pola hidup dan sebagainya. Namun bukan berarti pasangan dengan latar belakang yang sangat berbeda dan bertolak belakang tidak mungkin bersatu. Hanya saja mereka mesti lebih siap dituntut berupaya lebih keras dalam proses penyesuaian diri.
2. Kesetaraan
Kesetaraan akan mempermudah suami istri dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Adanya kesetaraan dalam banyak hal dapat meminimalkan friksi yang mungkin timbul. Kesetaraan ini antara lain meliputi kesetaraan pendidikan, pola pikir dan keimanan.
3. Karakteristik individu
Setiap individu memiliki karakteristik yang unik dan ini menjadi salah satu pilar yang menentukan langgeng tidaknya sebuah rumah tangga. Individu dengan karakter sulit yang bertemu dengan individu yang juga berkarakter sulit, tentu lebih berat dalam mempertahankan pernikahannya. Sebaliknya, yang berkarakter sulit bila bertemu dengan pasangan yang berkarakter mudah, tentu proses penyesuaian yang harus dijalaninya bakal lebih mulus.
4. Cinta
Jangan anggap sepele kata yang satu ini. Walaupun tidak berwujud, cinta dapat dirasakan. Pernikahan tanpa cinta bisa dibilang ibarat sayur tanpa garam, serba hambar dan dingin. Cinta yang dimaksud adalah cinta yang mencakup makna melindungi, memiliki tanggung jawab, memberi rasa aman pada pasangan dan sebagainya.
Ada yang bilang, setelah sekian tahun menikah cinta biasanya akan hilang dengan sendirinya seiring dengan berjalannya waktu. Sementara yang tersisa tinggal tanggung jawab. Benarkah? "Tidak harus seperti itu karena cinta bisa dipupuk supaya terus subur. Apalagi menjalani tanggung jawab akan terasa lebih ringan kalau ada cinta di dalamnya," ujar Titi. Meski tentu saja, mempertahankan rumah tangga tidak cukup bermodalkan cinta semata!
5. Kematangan dan motivasi
Kematangan suami/istri memang ditentukan oleh faktor usia ketika menikah. Mereka yang menikah terlalu muda secara psikologis belum matang dan ini akan berpengaruh pada motivasinya dalam mempertahankan biduk rumah tangga. Namun usia tidak identik dengan kematangan seseorang karena bisa saja orang yang sudah cukup umur tetap kurang memperlihatkan kematangan.
6. Partnership
Pilar rumah tangga berikutnya adalah partnership  alias semangat bekerja sama di antara suami dan istri. Tanpa adanya partnership, umumnya rumah tangga mudah goyah. Selain itu perlu "persahabatan" yang bisa dirasakan keduanya. Coba bayangkan, alangkah nikmatnya bila masalah apa pun yang menghadang senantiasa dihadapi bersama dengan seorang sahabat.
BILA TERJADI KEPINCANGAN
Idealnya, ucap Titi, semua pilar tersebut sama-sama ikut menyangga bangunan rumah tangga agar segala sesuatunya menjadi lebih kokoh dan kuat. Namun dalam realitas sering terdapat kepincangan di sana-sini, entah dalam hal motivasi, kesetaraan dan sebagainya. Kalau hal seperti ini yang terjadi, apa yang harus dilakukan?
"Semua terpulang pada tujuan pernikahan itu sendiri. Kalau memang tujuan mereka jelas dan motivasi suami maupun istri kuat, tentu akan ada 'usaha' dari kedua belah pihak untuk menyelaraskan semuanya," jawab psikolog yang antara lain berpraktik di Empati Development Center. Keduanya akan bersedia menerima pasangannya, apa pun adanya. "Tapi ingat, menerima di sini bukan berarti pasrah begitu saja lo, melainkan harus ada penyesuaian di sana-sini yang bisa diterima bersama."
Mengarungi biduk perkawinan tanpa masalah memang mustahil karena friksi-friksi sangat mungkin muncul kapan saja dan mencakup aspek apa saja. "Namun sekali lagi kembali pada usaha suami dan istri untuk mempersepsikan perbedaan yang ada. Apakah perbedaan itu akan dibesar-besarkan atau dicarikan jalan keluarnya."
Saat menentukan pilihan mungkin saja calon suami/istri adalah yang terbaik. Namun dalam perjalanan hidup perkawinan mereka, di mata istri atau suami, ternyata pasangannya bukan lagi yang terbaik. Lo, kok bisa begitu? "Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang dinamis. Selalu saja ada perubahan. Oleh karena itulah dibutuhkan kesadaran kedua belah pihak untuk terus-menerus menyesuaikan diri."
Singkatnya, walaupun semua pilar yang disebutkan itu ada dalam rumah tangga, tidak ada jaminan bahwa pernikahan ini akan mulus tanpa batu sandungan. Namun setidaknya dengan adanya pilar-pilar kokoh tadi, suami dan istri akan dipermudah dalam mengarungi bahtera rumah tangga.